Janji Allah Tentang Jodoh
Bekasi, 20 Juli 2024 – Dalam rangka meningkatkan pemahaman dan keimanan umat, TV One kembali menggelar acara “Damai Indonesiaku” dengan menggandeng Universitas Islam 45 Bekasi (DKM Al Fatah). Acara yang mengusung tema “Janji Allah Tentang Jodoh” ini berlangsung dengan khidmat di Masjid Al Fatah UNISMA Bekasi pada Sabtu siang, tepatnya pukul 12.30 WIB.
Kajian kali ini menghadirkan dua narasumber yang kompeten di bidangnya, yaitu Ustadz Fatih Risyad dan Ustadz Arifin Nugroho. Kegiatan ini dihadiri oleh Rektor Universitas Islam 45 Bekasi beserta para wakil rektor, dosen, staf tenaga kependidikan, serta masyarakat sekitar. Acara ini diharapkan dapat memberikan pencerahan mengenai pentingnya memahami dan mempercayai janji Allah tentang jodoh dalam kehidupan umat Islam.
Acara dibuka tepat pukul 13.30 oleh Host acara Damai Indonesiaku, Muhammad Softyan. Dalam segmen pertama, Ustadz Fatih Risyad membahas hakikat jodoh dalam Islam. Ustadz Fatih menjelaskan bahwa jodoh diibaratkan seperti “mur dan baut” yang harus klop agar hubungan bisa sakinah, mawaddah, warahmah. Lebih lanjut, Ustadz Fatih menyampaikan bahwa pada usia empat bulan dalam kandungan, Allah meniupkan ruh ke dalam janin, serta menuliskan rezeki, ajal, amal perbuatan, dan nasibnya. Menurutnya, jodoh adalah rezeki yang harus diusahakan dengan sungguh-sungguh. “Keluar, keluar, usaha… mencari jodohnya,” imbuhnya.
Di tengah-tengah segmen, Ustadz Fatih menyampaikan Surat Yasin Ayat 36:
سُبْحَٰنَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْأَزْوَٰجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنۢبِتُ ٱلْأَرْضُ وَمِنْ أَنفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ
Artinya: “Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.”
Tafsir ayat ini menggarisbawahi kebesaran Allah dalam menciptakan segala sesuatu secara berpasangan, termasuk tanaman, hewan, dan manusia. Hal ini menunjukkan bahwa konsep berpasangan adalah bagian dari fitrah alam dan ciptaan Allah, serta menegaskan pentingnya menemukan pasangan yang sesuai dalam kehidupan.
Setelah segmen pertama yang membahas hakikat jodoh dalam Islam, acara TV One Damai Indonesiaku dilanjutkan dengan segmen kedua yang disampaikan oleh Ustadz Arifin Nugroho. Dalam segmen ini, Ustadz Arifin membahas bagaimana seseorang yang belum menemukan jodohnya dapat berusaha dan berdoa untuk menjemput jodoh yang telah ditentukan Allah.
Ustadz Arifin menjelaskan bahwa dalam Islam, takdir terkait dengan jodoh bisa dibagi menjadi dua istilah penting: mubram dan muallaq. Mubram adalah ketetapan yang pasti atau mutlak, yang sudah ditentukan oleh Allah dan tidak bisa diubah. Sedangkan muallaq adalah takdir yang bergantung pada usaha manusia, sebab kausalitas yang bisa berubah sesuai dengan upaya yang dilakukan oleh individu. Untuk mereka yang belum menemukan jodoh, Ustadz Arifin menekankan pentingnya bekal untuk menjemput jodoh dengan berpikir positif dan berusaha dengan sungguh-sungguh. Sebagai penjelasan, Ustadz Arifin merujuk pada penggalan Surat An-Nur Ayat 26 yang berbunyi:
ٱلْخَبِيثَٰتُ لِلْخَبِيثِينَ وَٱلْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَٰتِ ۖ وَٱلطَّيِّبَٰتُ لِلطَّيِّبِينَ وَٱلطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَٰتِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ ۖ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
Ayat ini menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya telah diciptakan dan ditentukan jodohnya masing-masing, dan jodoh adalah cerminan diri kita. Ustadz Arifin juga mengutip sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan Tirmidzi, yang menegaskan bahwa segala sesuatu, termasuk jodoh, telah ditetapkan oleh Allah jauh sebelum penciptaan langit dan bumi:
“Allah telah mencatat ketentuan-ketentuan ciptaan-Nya 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.” (HR Muslim dan Tirmidzi). Sebagai penutup segmen kedua, Ustadz Arifin menekankan pentingnya menentukan kriteria jodoh yang disesuaikan dengan kondisi dan kepribadian kita. Beliau menyarankan untuk melakukan evaluasi diri, memahami kelebihan dan kekurangan diri, serta memastikan bahwa kriteria yang ditetapkan realistis dan sesuai dengan diri kita sendiri.
Setelah dua segmen utama yang disampaikan oleh Ustadz Fatih Risyad dan Ustadz Arifin Nugroho, acara TV One Damai Indonesiaku dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Salah satu penanya dalam sesi ini adalah Rektor Universitas Islam 45 Bekasi, Dr. Amin. Beliau mengajukan pertanyaan mengenai proses pencarian jodoh untuk mahasiswa di kampus yang berbasis syariah dan tentang konsep “awet rajet” dalam pasangan, yaitu pasangan yang tetap bersama meskipun sering bertengkar.
Pertanyaan Rektor Universitas Islam 45 Bekasi:
- Bagaimana proses pencarian jodoh yang berbasis syariah bagi mahasiswa?
- Apa yang dimaksud dengan “awet rajet” dalam hubungan pasangan, apakah itu berarti baik bertemu baik dan buruk bertemu buruk?
Jawaban Ustadz Arifin Nugroho:
Ustadz Arifin memulai jawabannya dengan memberikan apresiasi kepada Dr. Amin, menyebut beliau sebagai pemimpin yang peduli terhadap kesejahteraan mahasiswa/i. Ustadz Arifin menyampaikan harapan bahwa kepedulian ini akan membawa berkah bagi Universitas Islam 45 Bekasi.
Mencari Jodoh Berbasis Syariah: Ustadz Arifin menjelaskan bahwa kunci utama dalam pencarian jodoh berbasis syariah adalah niat untuk mencari ridho Allah. Ibadah menikah harus dilakukan dengan tujuan yang murni, yaitu untuk mendapatkan ridho Allah. Dalam proses pencarian dan penjembutan jodoh, penting untuk tidak melakukan hal-hal yang mengundang murka Allah. Salah satu cara yang syar’i adalah melalui proses taaruf. Taaruf adalah proses saling mengenal antara calon pasangan dengan cara yang halal dan sesuai syariat. Dalam taaruf, calon pasangan dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang relevan untuk membangun komitmen bersama dan memahami baik buruk masing-masing.
Konsep “Awet Rajet” dalam Pasangan: Menjawab pertanyaan tentang konsep “awet rajet,” Ustadz Arifin menjelaskan bahwa pada umumnya, pasangan yang baik akan bertemu dengan yang baik, dan yang buruk dengan yang buruk. Namun, ada kalanya terjadi di luar kebiasaan umum, di mana pasangan yang baik bertemu dengan yang buruk. Hal ini mungkin saja merupakan ujian dari Allah untuk menguji kesabaran atau sebagai pembelajaran bagi keduanya. Dalam menghadapi situasi ini, penting untuk tetap bersabar dan berusaha memahami hikmah di balik setiap kejadian.
Waallahualam.
Tim Redaksi
DKM Al Fatah UNISMA Bekasi

