Mudah Marah Berujung Musibah
Bekasi, 21 Desember 2024 / 9 Jumadil Awal 1446 H – DKM Al Fatah Universitas Islam 45 Bekasi kembali menggelar kajian islami inspiratif bertema “Mudah Marah Berujung Musibah”. Acara ini bertujuan untuk memberikan pencerahan kepada jamaah tentang pentingnya mengendalikan amarah demi menjaga harmoni dalam hubungan sosial dan spiritual.
Bertempat di Masjid Al-Fatah, UNISMA Bekasi, acara ini dihadiri oleh berbagai kalangan, termasuk mahasiswa, dosen, dan masyarakat umum. Ustadz Riza Muhammad dan Ustadz Dennis Lim, sebagai narasumber utama, memberikan pandangan mendalam mengenai bagaimana sifat marah bisa merugikan diri sendiri maupun orang lain jika tidak terkendali.
Mudah Marah dalam Perspektif Islam
Dalam tausiyahnya, Ustadz Riza Muhammad bahwa amarah sering kali berasal dari godaan setan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis. Ia menjelaskan lima langkah praktis dari Rasulullah SAW untuk mengendalikan amarah, yaitu:
- Berta’awudz (Memohon perlindungan kepada Allah), Saat marah, dianjurkan membaca “A’udzubillahi minasy-syaithanir-rajim” untuk meminta perlindungan dari setan, karena amarah adalah salah satu bisikan setan.
- Diam (Menahan diri untuk tidak berbicara), Nabi Muhammad SAW bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian marah, maka hendaknya ia diam.” Dengan diam, seseorang dapat menghindari perkataan yang bisa melukai perasaan orang lain.
- Mengubah posisi, Rasulullah SAW menganjurkan, jika seseorang marah dalam posisi berdiri, maka duduklah. Jika masih marah, berbaringlah. Hal ini membantu mengurangi intensitas emosi.
- Berwudhu, Amarah berasal dari api, dan api hanya bisa dipadamkan dengan air. Maka, berwudhu adalah cara efektif untuk meredakan emosi.
- Mengingat janji surga, Rasulullah SAW bersabda, “Jangan marah, maka bagimu surga.” Mengingat pahala besar bagi yang mampu menahan amarah menjadi motivasi kuat untuk bersabar.
Bahaya Amarah yang Tidak Terkendali
Ustadz Riza Muhammad memperkuat penjelasan dengan menyampaikan bahwa amarah yang tidak terkendali bisa menjadi sumber konflik yang berkepanjangan. Ia mengutip Surah Ali Imran ayat 133 yang menegaskan bahwa orang bertakwa adalah mereka yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. “Ketika kita bisa menahan amarah, kita bukan hanya menyelamatkan hubungan dengan sesama manusia, tetapi juga menjadi pribadi yang dicintai Allah SWT,” ujarnya.
Interaksi dan Diskusi Jamaah
Sesi tanya jawab berlangsung hangat dengan banyak pertanyaan dari jamaah. Salah seorang jamaah bertanya bagaimana menghadapi orang yang mudah marah tanpa memicu konflik lebih lanjut. Menjawab hal ini, Ustadz Dennis Lim menyarankan, “Balaslah kemarahan dengan kesabaran. Berikan contoh akhlak yang baik dan doakan mereka agar mendapatkan hidayah dari Allah SWT. Ini akan membantu menciptakan suasana damai.”
Pesan Penutup
Sebagai penutup, Ustadz Riza Muhammad dan Ustadz Dennis Lim mengingatkan bahwa hidup adalah amanah dari Allah. Jangan biarkan amarah merusak hubungan dengan Allah maupun sesama manusia. “Jadilah orang yang mampu mengendalikan emosi, karena itu adalah tanda ketakwaan yang sejati,” pesan mereka. Acara ditutup dengan doa bersama, memohon kepada Allah SWT agar seluruh jamaah diberikan kekuatan untuk menghindari amarah dan senantiasa bersikap sabar. Semoga kajian ini menjadi bekal spiritual bagi jamaah dalam meningkatkan kualitas diri.
Waallahualam.
Tim Redaksi
DKM Al Fatah UNISMA Bekasi

