Makna Waktu Dalam Islam
Pada tanggal 23 Desember 2024 M, bertepatan dengan 10 Jumadil Akhir 1446 H, DKM Masjid Al-Fatah Universitas Islam 45 Bekasi mengadakan kajian rutin dengan tema Makna Waktu dalam Islam. Kajian ini menghadirkan narasumber yang sangat kompeten, yaitu Ustadz Musyaffa Amin Ash Shabah, salah satu dosen dari Fakultas Agama Islam Universitas Islam 45 Bekasi. Kajian kali ini membahas bagaimana umat Islam harus memaknai waktu yang diberikan oleh Allah, serta bagaimana memanfaatkannya sebaik mungkin sesuai dengan ajaran Islam.
Menurut Ustadz Musyaffa, waktu adalah anugerah yang sangat berharga dari Allah. “Setiap umat manusia diberikan waktu yang sama, yaitu 24 jam dalam sehari. Namun, yang membedakan adalah bagaimana kita mengelola waktu tersebut,” tegasnya. Ustadz menambahkan, pada waktu yang sama, ada orang yang masih asyik menonton Netflix, ada yang sibuk bermain game, ada yang berkutat dengan rapat, bahkan ada yang sibuk dengan jual beli di pasar atau bekerja di sawah. Namun, di tempat lain, ada pula yang mengisi waktunya dengan beribadah, mendekatkan diri kepada Allah.
Waktu sebagai Nikmat yang Sering Diabaikan
Salah satu poin penting yang disampaikan oleh Ustadz Musyaffa adalah bagaimana banyak orang sering kali melupakan betapa berharganya waktu. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, Rasulullah SAW bersabda, “Dua nikmat yang banyak tertipu di dalamnya manusia adalah nikmat waktu luang dan nikmat sehat.” (HR. Al-Bukhari). Ustadz menekankan bahwa kita sering kali tidak menyadari bahwa dua nikmat ini adalah hal yang paling berharga dalam hidup. “Nikmat waktu yang luang seringkali kita sia-siakan begitu saja. Padahal, setiap detik waktu yang terlewat tak akan bisa kembali,” ungkapnya.
Waktu dalam Perspektif Al-Qur’an
Ustadz Musyaffa juga menjelaskan bagaimana Al-Qur’an mengajarkan kita tentang waktu. Dalam surat Al-‘Ashr, ayat 1-3 yang berbunyi:
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر (3)ِ
Artinya:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal saleh, serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.”
Ustadz menegaskan bahwa Allah menyatakan bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang memiliki iman yang kuat dan melakukan amal saleh. “Waktu yang terlewat tanpa amal yang bermanfaat adalah kerugian yang besar,” tegasnya.
Menurut Ustadz Musyaffa, dalam ayat ini, kata khusrin (kerugian) menunjukkan bahwa manusia akan mengalami berbagai jenis kerugian, kecuali mereka yang memiliki iman yang benar dan beramal saleh. “Iman bukan hanya keyakinan di dalam hati, tetapi juga pengakuan dengan lisan dan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya. Iman yang kuat dapat mendorong seseorang untuk memanfaatkan waktunya dengan lebih baik dan lebih bermanfaat.
Keutamaan Memanfaatkan Waktu untuk Ibadah
Salah satu contoh terbaik dalam memanfaatkan waktu adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah. Ustadz Musyaffa mengutip sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, yang menjelaskan bahwa setiap langkah menuju masjid untuk beribadah akan mengangkat derajat dan menghapus dosa. “Setiap langkah menuju masjid, meskipun hanya satu langkah, akan mendatangkan pahala yang sangat besar,” tegas Ustadz Musyaffa.
Penutup,
Memanfaatkan Waktu untuk Kebaikan
Dalam kajian ini, Ustadz Musyaffa menegaskan kembali bahwa waktu adalah salah satu nikmat yang harus digunakan dengan penuh tanggung jawab. Waktu yang hilang tidak akan pernah kembali, sehingga setiap detik sangat berharga. “Untuk itu, mari kita pergunakan waktu kita sebaik-baiknya, baik untuk memperbaiki iman kita, melakukan amal saleh, maupun untuk saling menasihati di jalan yang benar dan sabar,” ujarnya.
Dengan mengelola waktu secara bijaksana, kita bisa terhindar dari kerugian dan memperoleh manfaat yang besar baik di dunia maupun di akhirat. “Gunakan waktu untuk belajar, beribadah, dan beramal saleh. Itulah cara terbaik untuk mengisi waktu yang Allah berikan kepada kita,” tutupnya.
Melalui kajian ini, diharapkan kita semua dapat lebih bijak dalam menggunakan waktu yang Allah berikan dan senantiasa berusaha untuk memanfaatkannya dengan cara yang paling bermanfaat dan mendapatkan ridha-Nya.
Waallahualam.
Tim Redaksi
DKM Al Fatah UNISMA Bekasi

