Makna Waktu dalam Islam, Kesempatan yang Tak Boleh Disia-siakan

Bekasi, 23 Desember 2024 / 11 Jumadil Akhir 1446 H – DKM Masjid Al-Fatah Universitas Islam 45 Bekasi kembali mengadakan kajian rutin ba’da Dzuhur dengan tema “Makna Waktu dalam Islam, Kesempatan yang Tak Boleh Disia-siakan”. Acara ini menghadirkan Ustadz Pauzan Haryono, salah satu dosen Pascasarjana Universitas Islam 45 Bekasi, sebagai narasumber utama. Dalam kajian yang berlangsung khidmat ini, Ustadz Pauzan menekankan pentingnya memahami waktu sebagai nikmat Allah yang harus digunakan dengan sebaik-baiknya.

Waktu sebagai Amanah yang Tak Akan Kembali Dalam pembukaannya, Ustadz Pauzan Haryono menjelaskan bahwa waktu adalah salah satu nikmat terbesar yang sering kali diabaikan manusia. “Banyak orang yang sadar akan nilai waktu hanya setelah mereka kehilangannya. Padahal, waktu adalah bagian dari hidup kita yang tidak bisa diulang,” tegasnya.

Beliau menambahkan bahwa dalam Islam, waktu bukan sekadar penghitungan detik, menit, dan jam, tetapi juga amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. “Setiap hari yang berlalu akan menjadi saksi bagi kita, apakah kita mengisinya dengan kebaikan atau justru menyia-nyiakannya,” ujar Ustadz Pauzan.

Ramadan, Momentum Penghapusan Dosa
Salah satu waktu yang paling berharga dalam kehidupan seorang Muslim adalah bulan Ramadan. Ustadz Pauzan Haryono menekankan bahwa Ramadan memiliki keistimewaan karena mampu membakar dosa-dosa yang telah lalu, layaknya api yang menghanguskan segala sesuatu.

“Ramadan bukan sekadar bulan puasa, tetapi bulan di mana kita diberi kesempatan emas untuk menghapus dosa-dosa. Jangan sia-siakan momen ini dengan perbuatan yang tidak bermanfaat,” serunya dengan penuh penekanan.

Lebih lanjut, beliau mengingatkan bahwa manusia tidak bisa lepas dari dosa, dan dosa yang menumpuk akan menjadi beban, baik di dunia maupun di akhirat. “Kita sering merasa hidup penuh masalah, bisa jadi karena dosa yang kita lakukan tanpa kita sadari,” ujarnya. Maka dari itu, Ramadan harus dimanfaatkan dengan memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah.

Taubat dan Pengakuan Dosa, Kunci Penghapusan Kesalahan
Ustadz Pauzan juga menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk kembali kepada Allah melalui taubat. Beliau mengisahkan bagaimana Nabi Adam AS dan Nabi Yunus AS mendapatkan pengampunan setelah mengakui kesalahan mereka.

  1. Nabi Adam AS ketika melakukan kesalahan, segera beristighfar dan memohon ampun kepada Allah dengan penuh kesungguhan.
  2. Nabi Yunus AS, saat menghadapi ujian berat di dalam perut ikan, juga menyelamatkan dirinya dengan memanjatkan doa dan pengakuan dosa.

“Taubat yang tulus bukan hanya diucapkan di lisan, tetapi juga diikuti dengan perubahan dalam perbuatan. Allah Maha Pengampun, tetapi kita harus menunjukkan kesungguhan dalam memperbaiki diri,” tegasnya. Puasa sebagai Bentuk Transformasi Diri

Lebih lanjut, Ustadz Pauzan Haryono menekankan bahwa puasa di bulan Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga sarana untuk mentransformasi diri menjadi lebih baik. “Puasa yang benar akan membersihkan hati, seperti halnya perut yang kosong membuat tubuh lebih ringan,” jelasnya. “Ketika kita bisa mengendalikan hawa nafsu, maka kita akan lebih mudah menerima kebaikan dan keberkahan.”

Beliau juga menjelaskan bahwa puasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menghindari perkataan yang sia-sia, amarah, dan perbuatan yang tidak bermanfaat. “Jika puasa kita hanya sebatas lapar dan haus, maka kita kehilangan esensi dari ibadah ini,” ujarnya. Jangan Menunda Kebaikan, Waktu Tidak Bisa Kembali

Menjelang akhir kajian, Ustadz Pauzan Haryono mengingatkan bahwa orang yang cerdas adalah mereka yang tidak menyia-nyiakan waktu.

  1. “Setiap hari yang berlalu adalah bagian dari umur kita yang tidak akan kembali. Gunakanlah untuk kebaikan, jangan menyesal di kemudian hari.”
  2. “Jika hari ini kita masih diberi kesempatan untuk bertaubat, gunakanlah dengan baik. Jangan menunggu esok hari, karena kita tidak tahu apakah besok masih ada untuk kita.”
  3. “Ramadan adalah waktu terbaik untuk memperbaiki diri. Jangan hanya sibuk dengan aktivitas duniawi, tetapi manfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah.”

Beliau menutup kajian dengan sebuah peringatan yang mendalam: “Jika kita tidak mengisi waktu dengan amal baik, maka waktu akan diisi dengan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi kita.”

Tim Redaksi
DKM Al Fatah UNISMA Bekasi