Beberapa Pelajaran Peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW.

Bekasi, 8 Juli 2024 – Bertepatan 1 Muharram 1445 H, DKM Masjid Al Fatah UNISMA Bekasi sukses menggelar kajian bertema “Beberapa Pelajaran dari Peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW”. Acara ini mengundang antusiasme besar dari kalangan mahasiswa, dosen, serta masyarakat umum. Narasumber kajian ini adalah Ustadz M. Ikhwan Rahmanto, S.Tp., M.Si., yang memaparkan makna mendalam dari peristiwa hijrah.

Esensi Hijrah dalam Sejarah Islam menurut Ustadz M. Ikhwan Rahmanto menjelaskan bahwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah adalah perintah Allah SWT di tengah tekanan hebat kaum kafir Quraisy terhadap umat Muslim. Hijrah bukan sekadar perpindahan fisik, tetapi juga simbol dari transformasi spiritual, sosial, dan politik umat Islam.

Strategi dan Keberanian yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW melaksanakan hijrah bersama Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dengan strategi yang sangat cermat. Mereka memilih rute dan waktu yang tidak lazim untuk mengelabui kaum Quraisy, termasuk tinggal di Gua Tsur selama tiga hari. Keberanian Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yang rela tidur di tempat tidur Nabi menggambarkan pengorbanan dan keyakinan yang luar biasa.

1. Keteguhan Iman
Peristiwa hijrah menunjukkan keteguhan iman dan keberanian luar biasa dari Nabi dan para sahabat. Mereka rela meninggalkan kampung halaman, harta benda, dan keluarga demi menjaga agama dan keselamatan diri. Keteguhan ini diilustrasikan dengan keputusan Nabi dan para sahabat untuk tetap menjalankan hijrah meskipun menghadapi ancaman besar dari kaum Quraisy, yang menawarkan hadiah besar bagi siapa saja yang bisa menangkap dan membunuh Nabi Muhammad SAW, jelas Ustadz Ikhwan.

2. Perencanaan Matang
Hijrah dilakukan dengan perencanaan dan strategi matang untuk menghindari pengejaran. Nabi Muhammad SAW tidak hanya bergantung pada keberanian, tetapi juga pada perencanaan yang cermat. Misalnya, pemilihan waktu hijrah pada malam hari, penggunaan Gua Tsur sebagai tempat persembunyian sementara, dan rute perjalanan yang tidak biasa untuk mengelabui para pengejar dari Quraisy. Selain itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melibatkan ahli penunjuk jalan non-Muslim, Abdullah bin Uraiqith, untuk memastikan perjalanan yang aman menuju Madinah, imbuhnya.

3. Persaudaraan dan Solidaritas
Nabi Muhammad SAW membangun ikatan persaudaraan yang kuat antara kaum Muhajirin (pendatang dari Mekkah) dan Anshar (penduduk asli Madinah). Persaudaraan ini tidak hanya sekadar hubungan sosial, tetapi juga mencakup bantuan ekonomi dan perlindungan fisik. Kaum Anshar dengan sukarela membagi harta dan tempat tinggal mereka dengan kaum Muhajirin, menunjukkan solidaritas yang luar biasa. Ini adalah contoh nyata dari ajaran Islam tentang pentingnya ukhuwah (persaudaraan) dan saling membantu di antara sesama Muslim, ungkap Ustadz Ikhwan.

4. Membangun Peradaban
Hijrah menandai awal pembangunan peradaban Islam yang gemilang di Madinah. Di Madinah, Nabi Muhammad SAW tidak hanya mendirikan masjid sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pemerintahan dan pendidikan. Beliau menyusun Piagam Madinah, sebuah konstitusi pertama yang mengatur hak dan kewajiban warga, termasuk hubungan antara kaum Muslim dan non-Muslim. Piagam ini menjadi fondasi bagi pemerintahan Islam yang adil dan inklusif, serta menegaskan prinsip-prinsip keadilan, kebebasan beragama, dan persamaan hak, jelasnya.

Sebagai penutup Ustadz M. Ikhwan Rahmanto menyampaikan bahwa Hijrah Nabi Muhammad SAW menjadi tonggak penting dalam sejarah Islam, menandai dimulainya era baru yang penuh dengan keberhasilan dan kejayaan umat Muslim di Madinah. Acara ini mengajak para peserta untuk merenungkan makna hijrah dalam konteks kehidupan modern, termasuk pentingnya hijrah spiritual menuju kehidupan yang lebih baik.

Waallahualam.

Tim Redaksi
DKM Al Fatah UNISMA Bekasi