SIKAP AROGAN DISEGANI ATAU DIMURKAI

Bekasi, 23 November 2024 / 18 Rabiul Akhir 1446 H – DKM Al Fatah Universitas Islam 45 Bekasi kembali menggelar kajian rutin setelah Salat Dhuha pada hari Senin, 23 November 2024. Kajian kali ini mengangkat tema yang sangat relevan dalam kehidupan sosial dan spiritual umat Islam, yaitu “Arogansi: Sikap yang Disegani atau Dimurkai?”.

Acara yang berlangsung di Masjid Al-Fatah, Universitas Islam 45 Bekasi, dihadiri oleh jamaah dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa hingga masyarakat umum. Pembicara utama dalam kajian kali ini adalah Ustadz Riza Muhammad, seorang yang juga dikenal luas atas pemikirannya yang mendalam mengenai masalah sosial dan spiritual. Ustadz Riza Muhammad didampingi oleh K.H. Syarif Matnaji, seorang ulama senior yang memiliki pengaruh besar dalam pengembangan pendidikan Islam di wilayah Bekasi dan sekitarnya.

Mengenal Arogansi dalam Islam
Arogansi atau kesombongan adalah sifat yang sangat dibenci dalam Islam, baik terhadap Allah, Rasul-Nya, maupun sesama manusia. Dalam kajian yang dipandu oleh Ustadz Riza Muhammad, beliau menekankan bahwa sifat sombong dapat mengarah pada perilaku yang tidak hanya merugikan diri sendiri tetapi juga merugikan orang lain. “Arogansi adalah musuh besar bagi keimanan. Dalam Islam, kita diajarkan untuk rendah hati, menghargai orang lain, dan menghindari perasaan bahwa diri kita lebih tinggi dari orang lain,” kata Ustadz Riza.

Beliau juga mengutip Surah Luqman, ayat 18, yang berbunyi:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى ٱلْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Artinya: “Dan janganlah kamu memalingkan muka dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.”

Arogansi, menurut Ustadz Riza, terbagi menjadi tiga kategori yang sangat jelas dalam ajaran Islam, yaitu:

  1. Arogansi terhadap Allah, menolak kebenaran yang datang dari-Nya, atau merasa lebih tinggi daripada hukum-hukum-Nya. Ini adalah bentuk kesombongan terbesar, karena menyombongkan diri terhadap Sang Pencipta.
  2. Arogansi terhadap Rasulullah, tidak mengikuti sunnah dan ajaran Nabi Muhammad SAW. Dalam Islam, mencintai dan mengikuti Rasulullah adalah bagian dari kewajiban seorang Muslim.
  3. Arogansi terhadap sesama manusia, merendahkan, menghina, atau memandang rendah orang lain berdasarkan status sosial, ekonomi, atau latar belakang mereka.

Penyebab dan Dampak Arogansi
Dalam paparan selanjutnya, K.H. Syarif Matnaji menambahkan bahwa arogansi tidak hanya merusak hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga mengganggu hubungan sosial antara sesama manusia. “Sifat sombong sering kali dipicu oleh kebanggaan atas harta, kedudukan, atau kecantikan. Semua itu bisa menjadi sumber kesombongan yang menjauhkan seseorang dari sifat rendah hati yang diperintahkan oleh Allah,” jelas beliau.

Menurut K.H. Syarif, ada tiga penyebab utama dari kesombongan dalam diri manusia, yang merupakan sumber dosa yang harus dihindari:

  1. Al-Kibir (Sombong): Merasa lebih baik dari orang lain, baik karena harta, penampilan, atau status sosial.
  2. Al-Hisr (Tamak): Keinginan yang berlebihan terhadap dunia, seperti kekayaan atau kekuasaan, yang bisa mengarah pada kesombongan.
  3. Al-Hasad (Iri dan Dengki): Keinginan untuk memiliki apa yang dimiliki orang lain, yang pada akhirnya menumbuhkan rasa tidak puas dan arogan.

Arogansi dalam Sejarah Islam
Arogansi telah menjadi bagian dari sejarah umat manusia, yang mengarah pada kehancuran. K.H. Syarif Matnaji menceritakan kisah Firaun dan Qarun sebagai contoh konkret bagaimana kesombongan dapat menghancurkan seseorang, meskipun mereka memiliki kekuasaan yang besar dan harta yang melimpah. “Firaun yang merasa dirinya sebagai Tuhan dan Qarun yang kaya raya karena kekayaannya, keduanya dihancurkan oleh Allah karena kesombongan mereka,” katanya.

Sebagai tambahan, Ustadz Riza mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, yang menyatakan bahwa tidak ada orang yang akan masuk surga jika dalam hatinya terdapat sedikit saja rasa sombong, bahkan sebesar biji sawi sekalipun. “Kesombongan, meskipun terlihat kecil, akan mempengaruhi hati dan membawa akibat buruk baik di dunia maupun di akhirat,” tegas Ustadz Riza.

Menghindari Arogansi dalam Kehidupan Sehari-hari
Setelah menjelaskan berbagai bahaya dan dampak arogansi, Ustadz Riza dan K.H. Syarif memberikan solusi konkret untuk menghindari sikap sombong dalam kehidupan sehari-hari. “Yang pertama, selalu ingatkan diri kita bahwa semua yang kita miliki adalah titipan dari Allah. Tidak ada satu pun yang kita miliki yang sepenuhnya milik kita. Semua itu hanyalah amanah yang harus kita pertanggungjawabkan,” kata Ustadz Riza.

Selain itu, beliau menekankan pentingnya menjaga adab dan akhlak. “Menghormati orang lain, tidak memandang rendah siapa pun, dan selalu bersikap rendah hati adalah kunci untuk menjaga agar tidak terjerumus dalam kesombongan,” tambah beliau. Hal ini selaras dengan ajaran Rasulullah SAW yang selalu menunjukkan akhlak yang mulia, baik dalam perilaku sehari-hari maupun dalam interaksi dengan orang lain.

Tanggapan Jamaah dan Diskusi
Acara kajian ini juga diselingi dengan sesi tanya jawab yang sangat interaktif. Salah satu pertanyaan yang diajukan oleh seorang jamaah adalah tentang bagaimana cara menghadapi orang yang arogan tanpa menimbulkan konflik. Ustadz Riza menjelaskan bahwa membalas keburukan dengan keburukan hanya akan memperburuk keadaan. “Balaslah keburukan dengan kebaikan, karena hanya dengan itu kita bisa memperlihatkan akhlak yang baik. Jangan pernah merasa perlu untuk berdebat atau membalas keburukan dengan cara yang sama,” tegas beliau.

K.H. Syarif juga menambahkan bahwa jika kita menemui orang yang sombong, cara terbaik adalah dengan mendoakan mereka agar mendapatkan hidayah dari Allah. “Jangan pernah balas kesombongan dengan kesombongan. Tetaplah bersikap rendah hati dan berikan contoh yang baik. Hanya dengan cara itulah kita bisa membawa orang kembali ke jalan yang benar,” ujar K.H. Syarif.

Penutup: Menghindari Arogansi dan Menjaga Hati
Kajian ini ditutup dengan pesan kuat dari kedua narasumber bahwa sifat sombong dan arogan adalah musuh bagi iman dan akhlak yang baik. “Jadilah pribadi yang rendah hati, yang selalu mengingat bahwa kita semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Jangan biarkan sifat sombong merusak hubungan kita dengan Allah dan sesama manusia,” pesan Ustadz Riza.

K.H. Syarif Matnaji menambahkan, “Ingatlah bahwa orang yang rendah hati adalah orang yang disayangi oleh Allah. Oleh karena itu, mari kita jadikan akhlak Rasulullah sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, di tempat kerja, maupun di masyarakat.”

Acara ini diakhiri dengan doa bersama, memohon kepada Allah untuk selalu diberikan hati yang bersih, rendah hati, dan terhindar dari sifat sombong. Para jamaah pun berdoa bersama agar semua pemimpin dan umat Islam dijauhkan dari sifat arogansi dan diberikan hidayah untuk senantiasa berlaku adil dan rendah hati.

Semoga kajian ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu memperbaiki akhlak dan menjaga hati agar tetap bersih dari segala bentuk kesombongan.

Waallahualam.

Tim Redaksi
DKM Al Fatah UNISMA Bekasi