Membangun Kelembagaan Islam

Pada hari Rabu, 7 Agustus 2024, bertepatan denga 1 Safar 1446 H, Masjid Al Fatah yang Universitas Islam 45 Bekasi, mengadakan kajian rutin dengan tema “Membangun Kelembagaan Islam” yang disampaikan oleh Ustadz Purnama Putra. Kajian ini membahas bab 8 dari Kitab Riyadusshalihin, yaitu Bab Istiqomah, dalam konteks tema besar tentang pembenahan kelembagaan Islam. Ustadz Purnama Putra, yang juga merupakan salah satu dosen di FAI Universitas Islam 45 Bekasi, memimpin kajian ini.

Menurut Ustadz Purnama Putra, tema keistiqomahan adalah langkah penting dalam proses membangun kelembagaan Islam. Beliau menjelaskan bahwa pembahasan sebelumnya menekankan pentingnya pembenahan visi dan misi lembaga yang hanya diarahkan untuk peribadatan kepada Allah, sebagai implementasi dari kalimat Syahadat. Selanjutnya, penanaman nilai universal seperti kompetensi ketaqwaan dan kejujuran merupakan perwujudan dari konsep penegakan sholat. Dengan menegakkan sholat secara benar, individu dan kelompok diharapkan memiliki karakteristik khas umat Islam, menjauhkan diri dari sifat negatif, dan menyebarkan kesalehan pribadi menjadi kesalehan sosial.

Imbuhnya, tema istiqomah dipilih sebagai langkah berikutnya karena dalam penghambaan diri kepada Allah, manusia akan menghadapi berbagai hambatan dan tantangan. Proses pengujian dalam menjalankan nilai-nilai ketaatan kepada Allah adalah sesuatu yang harus dihadapi setiap individu. Bab istiqomah dalam kitab ini memberikan landasan dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, di mana hadits yang dikutip oleh Imam Nawawi antara lain:

وعنْ أبي هُريْرة رضي اللَّه عنه : قال قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « قَارِبُوا وسدِّدُوا ، واعْلَمُوا أَنَّه لَنْ ينْجُو أحدٌ منْكُمْ بعملهِ » قَالوا : ولا أنْت يَا رسُولَ اللَّه؟ قال : « ولا أَنَا إلا أنْ يتَغَمَّدني اللَّه برَحْمةٍ منْه وَفضْلٍ » رواه مسلم .

Menurut Syaikh Shaleh bin Utsaimin, istiqomah dilakukan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Beliau menjelaskan bahwa setiap manusia tidak mungkin mencapai kesempurnaan dan pasti terdapat kekurangan. Sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah mereka yang bertaubat. Amalan manusia tidak akan pernah sebanding dengan nikmat Allah, karena surga Allah terlalu mahal untuk dibayar dengan amalan manusia. Oleh karena itu, surga adalah prerogatif Allah dan harapan manusia adalah mendapatkan rahmat-Nya.

وَلَا تُفْسِدُوا فِي ٱلْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَٱدْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ ٱلْمُحْسِنِينَ

Artinya: Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.

Dalam ayat ini, syarat untuk mendapatkan rahmat Allah adalah menjadi orang yang muhsin (melakukan kebaikan). Ujian keistiqomahan berupa komitmen dalam kebaikan, baik dalam kesendirian maupun di ruang publik, menjadi hal yang penting. Konsep ini mirip dengan pelaksanaan puasa di mana seseorang bisa berpura-pura berpuasa padahal tidak. Nilai puasa dalam perspektif keorganisasian adalah integritas. Ustadz Purnama Putra menegaskan bahwa integritas diri baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari organisasi harus dijaga untuk mendapatkan rahmat Allah. Universitas Islam 45 (UNISMA), sebagai lembaga pendidikan tinggi yang bernafaskan Islam, harus memiliki komitmen tinggi terhadap nilai integritas. Perbaikan Organisasi Keislaman setelah menyatukan Visi dan Misi kemudian penanaman nilai Universal selanjutnya berkomitmen dalam kebaikan dengan harapan mendapatkan rahmat Allah harus dilaksanakan secara bersama baik secara individu maupun kelembagaan. Apabila dalam perjuangan untuk komitmen dalam kebaikan terdapat hambatan yang besar maka kita harus berserah diri pada Allah dan berdoa sebagaimana dalam surat QS. Al-isra : 80

وَقُلْ رَّبِّ اَدْخِلْنِيْ مُدْخَلَ صِدْقٍ وَّاَخْرِجْنِيْ مُخْرَجَ صِدْقٍ وَّاجْعَلْ لِّيْ مِنْ لَّدُنْكَ سُلْطٰنًا نَّصِيْرًا ۝٨٠

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Ya Tuhanku, masukkan aku (ke tempat dan keadaan apa saja) dengan cara yang benar, keluarkan (pula) aku dengan cara yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong(-ku).

Pungkasnya, Ustadz Purnama Putra berharap bahwa UNISMA akan menjadi agen perubahan dalam kebaikan, dan lulusannya memberikan dampak positif bagi Negara Indonesia yang kita cintai. Semoga Allah memberikan kemudahan dalam berkomitmen terhadap kebaikan, serta menjaga diri dari keburukan dan mengajarkannya, terutama bagi penyelenggara pendidikan tinggi.

Tim Redaksi
DKM Al Fatah UNISMA Bekasi