MEMAHAMI MAKNA KHALIFAH
Pada hari Senin, 28 Agustus 2024, bertepatan dengan tanggal 13 Rabiul Awal 1446 H, Masjid Al-Fatah UNISMA Bekasi kembali menggelar kajian rutin yang kali ini diisi oleh Ustadz Dr. Akmal Gunawan, dosen Fakultas Agama Islam jurusan Pendidikan Agama Islam. Dengan tema yang mendalam dan penuh makna, beliau menyampaikan materi bertajuk “Memahami Makna Khalifah”.
Ustadz Dr. Akmal menjelaskan bahwa dalam perspektif Islam, manusia sering disebut sebagai “Khalifah,” yang secara umum dipahami sebagai pemimpin atau pengganti. Namun, beliau menekankan bahwa istilah “Khalifah” tidak selalu berkonotasi positif. Dalam Alquran, terdapat dua istilah jamak yang menggambarkan makna khalifah, yaitu “Khalaif” dan “Khulafaau,” yang memiliki nuansa berbeda dalam konteks penggantian.
Khalaif, yang disebutkan empat kali dalam Alquran:
Q.S. Al-An’am: 65, berbunyi:
قُلْ هُوَ ٱلْقَادِرُ عَلَىٰٓ أَن يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِّن فَوْقِكُمْ أَوْ مِن تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُم بَأْسَ بَعْضٍ ۗ ٱنظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ ٱلْءَايَٰتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ
Artinnya: “Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)”
Q.S. Yunus: 14, 73, berbunyi:
ثُمَّ جَعَلْنٰكُمْ خَلٰۤىِٕفَ فِى الْاَرْضِ مِنْۢ بَعْدِهِمْ لِنَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ
Artinnya: “Kemudian, Kami jadikan kamu sebagai pengganti-pengganti di bumi setelah mereka untuk Kami lihat bagaimana kamu berbuat.”
Q.S. Fathir: 39, berbunyi:
هُوَ الَّذِيْ جَعَلَكُمْ خَلٰۤىِٕفَ فِى الْاَرْضِۗ فَمَنْ كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهٗۗ وَلَا يَزِيْدُ الْكٰفِرِيْنَ كُفْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ اِلَّا مَقْتًاۚ وَلَا يَزِيْدُ الْكٰفِرِيْنَ كُفْرُهُمْ اِلَّا خَسَارًا
Artinnya: “Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi. Siapa yang kufur, (akibat) kekufurannya akan menimpa dirinya sendiri. Kekufuran orang-orang kafir itu hanya akan menambah kemurkaan di sisi Tuhan mereka. Kekufuran orang-orang kafir itu juga hanya akan menambah kerugian mereka.”
Q.S. Fathir: 39, berbunyi:
هُوَ الَّذِيْ جَعَلَكُمْ خَلٰۤىِٕفَ فِى الْاَرْضِۗ فَمَنْ كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهٗۗ وَلَا يَزِيْدُ الْكٰفِرِيْنَ كُفْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ اِلَّا مَقْتًاۚ وَلَا يَزِيْدُ الْكٰفِرِيْنَ كُفْرُهُمْ اِلَّا خَسَارًا
Artinnya: “Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi. Siapa yang kufur, (akibat) kekufurannya akan menimpa dirinya sendiri. Kekufuran orang-orang kafir itu hanya akan menambah kemurkaan di sisi Tuhan mereka. Kekufuran orang-orang kafir itu juga hanya akan menambah kerugian mereka.”
Ayat-ayat Al-Qur’an yang dikutip menunjukkan bahwa posisi manusia sebagai khalifah atau pengganti di bumi tidak selalu menandakan kebaikan. Seseorang yang digantikan belum tentu lebih buruk, dan penggantinya belum tentu lebih baik. Allah menguji manusia dengan tanggung jawab sebagai pengganti, dan hasil dari kepemimpinan ini bisa membawa kebaikan atau malah keburukan, tergantung pada bagaimana mereka menjalankan amanah tersebut. Ini mengingatkan kita bahwa setiap pengganti memiliki potensi untuk berbuat baik atau sebaliknya, tergantung pada tindakan mereka setelah diberi tanggung jawab
Selanjutnya menurut Ustads Dr. Akmal Rizki Gunawan, Khulafaau, yang disebutkan dua kali:
Q.S. Al-A’raf: 69, berbunyi:
اَوَعَجِبْتُمْ اَنْ جَاۤءَكُمْ ذِكْرٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ عَلٰى رَجُلٍ مِّنْكُمْ لِيُنْذِرَكُمْۗ وَاذْكُرُوْٓا اِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاۤءَ مِنْۢ بَعْدِ قَوْمِ نُوْحٍ وَّزَادَكُمْ فِى الْخَلْقِ بَصْۣطَةًۚ فَاذْكُرُوْٓا اٰلَاۤءَ اللّٰهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Artinnya: “Apakah kamu (tidak percaya dan) heran bahwa telah datang kepadamu tuntunan dari Tuhanmu atas seorang laki-laki dari golonganmu supaya dia memberi peringatan kepadamu? Ingatlah, ketika Dia (Allah) menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum Nuh, dan melebihkan kamu dalam penciptaan (berupa) tubuh yang tinggi, besar, dan kuat. Maka, ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.”
Q.S. An-Naml: 62, berbunyi:
اَمَّنْ يُّجِيْبُ الْمُضْطَرَّ اِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوْۤءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاۤءَ الْاَرْضِۗ ءَاِلٰهٌ مَّعَ اللّٰهِۗ قَلِيْلًا مَّا تَذَكَّرُوْنَۗ
Artinnya: “Apakah (yang kamu sekutukan itu lebih baik ataukah) Zat yang mengabulkan (doa) orang yang berada dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, menghilangkan kesusahan, dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah ada tuhan (lain) bersama Allah? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat.”
Dalam penjelasannya mengenai peran manusia sebagai khalifah di bumi, Dr. Akmal Rizki Gunawan menyampaikan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an mengandung pesan mendalam tentang kekuasaan Allah dan tanggung jawab manusia. Beliau menjelaskan bahwa posisi sebagai khalifah tidak selalu menunjukkan kebaikan dan pengganti tidak selalu lebih baik dari yang digantikan.
Kekuasaan Allah dan Peran Manusia sebagai Khalifah
Dr. Akmal Rizki Gunawan menguraikan tiga ayat penting dari Al-Qur’an yang menyoroti aspek-aspek ini:
-
Ayat Pertama (Q.S. Al-An’am: 65)
Ayat ini mengingatkan tentang kekuasaan Allah yang dapat menurunkan azab dari berbagai arah, mencampurkan manusia ke dalam golongan yang saling bertentangan, dan membiarkan sebagian merasakan keganasan sebagian lainnya. Ini menekankan bahwa manusia bisa tergelincir ke dalam konflik dan kesalahan. “Pengganti yang datang bisa saja lebih buruk atau lebih baik tergantung pada bagaimana mereka bertindak setelah menerima tanggung jawab,” ujar Dr. Akmal Rizki Gunawan.
-
Ayat Kedua (Q.S. Yunus: 14, 73)
Ayat ini berbicara tentang Allah yang menjadikan manusia sebagai pengganti di bumi setelah generasi sebelumnya. Allah ingin melihat bagaimana manusia berperilaku setelah diberi kekuasaan. “Tanggung jawab sebagai pengganti membawa ujian besar. Pengganti tersebut bisa menjadi lebih baik atau lebih buruk dari yang digantikan,” jelas Dr. Akmal Rizki Gunawan.
-
Ayat Ketiga (Q.S. Fathir: 39)
Ayat ini menyatakan bahwa Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi, tetapi juga menekankan bahwa kekufuran hanya akan menambah kerugian bagi diri mereka sendiri. “Pengganti bisa saja gagal dalam tanggung jawabnya, menjadi buruk, dan membawa kerugian bagi diri mereka dan orang lain,” terang Dr. Akmal Rizki Gunawan.
Kesimpulan
Dr. Akmal Rizki Gunawan menyimpulkan bahwa pergantian kepemimpinan atau posisi tidak secara otomatis menjamin kebaikan atau keburukan. Setiap pengganti menghadapi ujian yang sama: apakah mereka akan memanfaatkan kesempatan untuk berbuat kebaikan atau malah jatuh dalam kekufuran dan kerusakan? Tanggung jawab sebagai khalifah di bumi adalah amanah besar yang bisa membawa keberkahan atau kebinasaan, tergantung pada pilihan tindakan yang dilakukan oleh pengganti tersebut.
Pesan ini mengingatkan kita bahwa posisi sebagai khalifah memerlukan pertanggungjawaban dan integritas yang tinggi. Setiap individu yang diberi tanggung jawab harus memastikan bahwa mereka menjalankan amanah tersebut dengan baik untuk mencapai hasil yang positif dan bermanfaat bagi masyarakat.
Waallahualam.
Tim Redaksi
DKM Al Fatah UNISMA Bekasi

