{"id":429,"date":"2024-07-02T04:30:14","date_gmt":"2024-07-02T04:30:14","guid":{"rendered":"https:\/\/alfatah.umindonesia.ac.id\/?p=429"},"modified":"2024-07-30T06:02:25","modified_gmt":"2024-07-30T06:02:25","slug":"kajian-rutin-universitas-islam-45-bekasi-24-dzulhijah-1445-h-01-juli-2024","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/masjidalfatah.umindonesia.ac.id\/?p=429","title":{"rendered":"Kajian Rutin Universitas Islam 45 Bekasi, 24 Dzulhijah 1445 H \/ 01 Juli\u00a02024"},"content":{"rendered":"\n<h2 class=\"wp-block-heading has-text-align-center\"><strong>Kepulangan Ibadah Haji<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<style>\n@media screen and (max-width: 600px) {img{width:100%;}}\n<\/style>\n<p style=\"text-align:justify\"><img decoding=\"async\" src=\"..\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/kajian_rutin.jpeg\" style=\"width:50%;float:left;padding:8px 20px 10px 0;\">Bekasi, 1 Juli 2024 \u2013 DKM Masjid Al Fatah UNISMA Bekasi kembali menggelar kajian rutin yang dilaksanakan setiap hari Senin dan Rabu. Pada kesempatan kali ini, kajian bertema &#8220;Kepulangan Ibadah Haji&#8221; disampaikan oleh Dr. Abdul Khoir, M.Pd., yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang III. Acara ini diadakan setelah sholat Dzuhur. \nDalam kajiannya, Dr. Abdul Khoir menjelaskan bahwa puncak ibadah haji berlangsung selama lima hari yang dimulai pada 8 Dzulhijjah hingga 12 Dzulhijjah. Beliau menekankan bahwa selama periode ini, jamaah haji menjalani berbagai rukun dan wajib haji yang sangat penting. Lima hari tersebut mencakup:\n<\/p>\n\n\n\n\n<strong>Tanggal 8 Dzulhijjah (Hari Tarwiyah):<\/strong> Jamaah memulai niat haji dan menuju Mina.\n\n\n\n<strong>Tanggal 9 Dzulhijjah (Hari Arafah):<\/strong> Jamaah melakukan wukuf di Padang Arafah.\n\n\n\n<strong><strong>Tanggal 10 Dzulhijjah (Hari Nahr):<\/strong> <\/strong>Jamaah kembali ke Mina untuk melaksanakan lempar jumrah, penyembelihan hewan qurban, dan tahallul.\n\n\n\n<strong><strong><strong>Tanggal 11 Dzulhijjah (Hari Tasyriq):<\/strong> <\/strong><\/strong>Jamaah kembali melempar jumrah di Mina.\n\n\n\n<strong><strong><strong>Tanggal 12 Dzulhijjah (Hari Tasyriq):<\/strong> <\/strong><\/strong>Jamaah melakukan lempar jumrah terakhir dan kembali ke Makkah untuk tawaf ifadah.\n\n\n\n\n<p style=\"text-align:justify\">Selain menjalankan rukun haji, jamaah juga dianjurkan untuk melaksanakan ibadah sunnah lainnya selama di Makkah dan Madinah, seperti sholat di Masjidil Haram, berziarah ke makam Rasulullah di Madinah, dan melakukan tawaf sunnah. Dr. Abdul Khoir memberikan contoh-contoh konkret mengenai amalan sunnah yang bisa dilakukan untuk memperkaya pengalaman spiritual jamaah selama di Tanah Suci.\n<\/p>\n\n\n\n<p style=\"text-align:justify\">\nDr. Abdul Khoir menegaskan bahwa lima hari selama di Makkah merupakan kunci diterima atau tidaknya ibadah haji seseorang. &#8220;Kehikmatan dan keberkahan ibadah haji sangat tergantung pada bagaimana kita menjalankan rukun dan wajib haji dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan,&#8221; ujar beliau. Beliau juga menambahkan bahwa kepatuhan dan kesabaran dalam menjalani ibadah selama periode ini akan menentukan kesempurnaan haji seseorang.\n<\/p>\n\n\n\n<p style=\"text-align:justify\">\nSelanjutnya, beliau mengungkapkan beberapa hal yang dapat dilakukan secara sederhana terhadap kepulangan seseorang setelah menjalankan ibadah haji. Pertama, menjemput kepulangan jamaah haji dengan memberikan sambutan hangat dan menyambut gembira. Setelah lama tidak bertemu, momen ini memberikan suasana baru dan mempererat rasa kangen di antara keluarga dan sahabat.\nKedua, meminta doa kepada orang yang baru saja menjalankan ibadah haji. Beliau menjelaskan bahwa seseorang yang baru melaksanakan ibadah haji dianggap memiliki hati yang suci, ikhlas, dan bersih dari segala dosa selama 40 hari. Orang yang bersih hatinya, doanya lebih mudah dikabulkan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, meminta doa dari mereka bisa menjadi salah satu cara untuk mendapatkan berkah dan kemudahan dalam hidup. \n<\/p>\n\n\n\n<p style=\"text-align:justify\">\nDr. Abdul Khoir juga mengungkapkan makna penting dari menjaga atau menghindari kesibukan aktivitas duniawi selama 40 hari setelah tiba di Indonesia. Hal ini bertujuan untuk mampu menjaga kebiasaan baik yang dilakukan selama di Madinah dan Makkah, seperti sholat berjamaah dan membaca Al-Qur&#8217;an, agar dapat diteruskan seumur hidup. &#8220;Menghindari kesibukan duniawi yang kurang bermanfaat setelah kembali dari haji,  membantu seseorang mempertahankan kebiasaan ibadah yang baik dan meningkatkan kualitas spiritualitas kita,&#8221; kata beliau.\nKajian rutin ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman jamaah tentang pentingnya ibadah haji dan bagaimana menjalankannya dengan baik sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Kegiatan seperti ini menjadi sarana penting untuk memperkuat spiritualitas dan pengetahuan agama di kalangan civitas akademika dan masyarakat sekitar.\nWaallahualam.\n<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tim Redaksi<\/strong><br><strong>DKM Al Fatah UNISMA Bekasi<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kepulangan Ibadah Haji Bekasi, 1 Juli 2024 \u2013 DKM Masjid Al Fatah UNISMA Bekasi kembali menggelar kajian rutin yang dilaksanakan setiap hari Senin dan Rabu. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":428,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[9,12],"tags":[21],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/masjidalfatah.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/429"}],"collection":[{"href":"https:\/\/masjidalfatah.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/masjidalfatah.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/masjidalfatah.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/masjidalfatah.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=429"}],"version-history":[{"count":10,"href":"https:\/\/masjidalfatah.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/429\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":469,"href":"https:\/\/masjidalfatah.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/429\/revisions\/469"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/masjidalfatah.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/428"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/masjidalfatah.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=429"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/masjidalfatah.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=429"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/masjidalfatah.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=429"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}