{"id":1524,"date":"2024-12-23T02:56:26","date_gmt":"2024-12-23T02:56:26","guid":{"rendered":"https:\/\/alfatah.umindonesia.ac.id\/?p=1524"},"modified":"2024-12-27T03:40:53","modified_gmt":"2024-12-27T03:40:53","slug":"tv-one-damai-indonesiaku-menggandeng-unisma-bekasi-untuk-kajian-islami-23-november-2024","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/masjidalfatah.umindonesia.ac.id\/?p=1524","title":{"rendered":"TV One Damai Indonesiaku Menggandeng UNISMA Bekasi untuk Kajian Islami 21 Desember 2024"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong>Mudah Marah Berujung Musibah<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p style=\"text-align:justify\"><img decoding=\"async\" src=\"..\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/damai-1.jpeg\" style=\"width:50%;float:left;padding:8px 20px 10px 0;\">Bekasi, 21 Desember 2024 \/ 9 Jumadil Awal 1446 H \u2013 DKM Al Fatah Universitas Islam 45 Bekasi kembali menggelar kajian islami inspiratif bertema \u201cMudah Marah Berujung Musibah\u201d. Acara ini bertujuan untuk memberikan pencerahan kepada jamaah tentang pentingnya mengendalikan amarah demi menjaga harmoni dalam hubungan sosial dan spiritual.\n<\/p><p style=\"text-align:justify\">\nBertempat di Masjid Al-Fatah, UNISMA Bekasi, acara ini dihadiri oleh berbagai kalangan, termasuk mahasiswa, dosen, dan masyarakat umum. Ustadz Riza Muhammad dan Ustadz Dennis Lim, sebagai narasumber utama, memberikan pandangan mendalam mengenai bagaimana sifat marah bisa merugikan diri sendiri maupun orang lain jika tidak terkendali.\n<\/p><p style=\"text-align:justify\">\n<strong>Mudah Marah dalam Perspektif Islam<\/strong>\n<\/p><p style=\"text-align:justify\">\nDalam tausiyahnya, Ustadz Riza Muhammad bahwa amarah sering kali berasal dari godaan setan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur\u2019an dan hadis. Ia menjelaskan lima langkah praktis dari Rasulullah SAW untuk mengendalikan amarah, yaitu:\n<ol>\n<li>\nBerta\u2019awudz (Memohon perlindungan kepada Allah), Saat marah, dianjurkan membaca &#8220;A&#8217;udzubillahi minasy-syaithanir-rajim&#8221; untuk meminta perlindungan dari setan, karena amarah adalah salah satu bisikan setan.\n<\/li>\n<li>\nDiam (Menahan diri untuk tidak berbicara), Nabi Muhammad SAW bersabda: \u201cApabila salah seorang di antara kalian marah, maka hendaknya ia diam.\u201d Dengan diam, seseorang dapat menghindari perkataan yang bisa melukai perasaan orang lain.\n<\/li>\n<li>\nMengubah posisi, Rasulullah SAW menganjurkan, jika seseorang marah dalam posisi berdiri, maka duduklah. Jika masih marah, berbaringlah. Hal ini membantu mengurangi intensitas emosi.\n<\/li>\n<li>\nBerwudhu, Amarah berasal dari api, dan api hanya bisa dipadamkan dengan air. Maka, berwudhu adalah cara efektif untuk meredakan emosi.\n<\/li>\n<li>\nMengingat janji surga, Rasulullah SAW bersabda, \u201cJangan marah, maka bagimu surga.\u201d Mengingat pahala besar bagi yang mampu menahan amarah menjadi motivasi kuat untuk bersabar.\n<\/li>\n<\/ol>\n<\/p><p style=\"text-align:justify\">\n<strong>Bahaya Amarah yang Tidak Terkendali<\/strong><br>\nUstadz Riza Muhammad memperkuat penjelasan dengan menyampaikan bahwa amarah yang tidak terkendali bisa menjadi sumber konflik yang berkepanjangan. Ia mengutip Surah Ali Imran ayat 133 yang menegaskan bahwa orang bertakwa adalah mereka yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. \u201cKetika kita bisa menahan amarah, kita bukan hanya menyelamatkan hubungan dengan sesama manusia, tetapi juga menjadi pribadi yang dicintai Allah SWT,\u201d ujarnya.\n<\/p><p style=\"text-align:justify\">\n<strong>Interaksi dan Diskusi Jamaah<\/strong><br>\nSesi tanya jawab berlangsung hangat dengan banyak pertanyaan dari jamaah. Salah seorang jamaah bertanya bagaimana menghadapi orang yang mudah marah tanpa memicu konflik lebih lanjut. Menjawab hal ini, Ustadz Dennis Lim menyarankan, \u201cBalaslah kemarahan dengan kesabaran. Berikan contoh akhlak yang baik dan doakan mereka agar mendapatkan hidayah dari Allah SWT. Ini akan membantu menciptakan suasana damai.\u201d\n<\/p><p style=\"text-align:justify\">\n<strong>Pesan Penutup<\/strong><br>\nSebagai penutup, Ustadz Riza Muhammad dan Ustadz Dennis Lim mengingatkan bahwa hidup adalah amanah dari Allah. Jangan biarkan amarah merusak hubungan dengan Allah maupun sesama manusia. \u201cJadilah orang yang mampu mengendalikan emosi, karena itu adalah tanda ketakwaan yang sejati,\u201d pesan mereka. Acara ditutup dengan doa bersama, memohon kepada Allah SWT agar seluruh jamaah diberikan kekuatan untuk menghindari amarah dan senantiasa bersikap sabar. Semoga kajian ini menjadi bekal spiritual bagi jamaah dalam meningkatkan kualitas diri.\n<\/p>\n\n\n\n<p style=\"text-align:justify\">\nWaallahualam.\n<br><br>\n<strong>Tim Redaksi \n<br>\nDKM Al Fatah UNISMA Bekasi<\/strong>\n<\/p>\n\n\n\n<iframe loading=\"lazy\" width=\"100%\" height=\"450\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/ArTBz80uDnU?si=muqFWGl4o6PzzkJM\" title=\"YouTube video player\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mudah Marah Berujung Musibah Bekasi, 21 Desember 2024 \/ 9 Jumadil Awal 1446 H \u2013 DKM Al Fatah Universitas Islam 45 Bekasi kembali menggelar kajian [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1525,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[13],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/masjidalfatah.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1524"}],"collection":[{"href":"https:\/\/masjidalfatah.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/masjidalfatah.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/masjidalfatah.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/masjidalfatah.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1524"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/masjidalfatah.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1524\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1536,"href":"https:\/\/masjidalfatah.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1524\/revisions\/1536"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/masjidalfatah.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1525"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/masjidalfatah.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1524"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/masjidalfatah.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1524"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/masjidalfatah.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1524"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}