{"id":1516,"date":"2024-12-03T07:08:55","date_gmt":"2024-12-03T07:08:55","guid":{"rendered":"https:\/\/alfatah.umindonesia.ac.id\/?p=1516"},"modified":"2024-12-03T07:12:57","modified_gmt":"2024-12-03T07:12:57","slug":"tv-one-damai-indonesiaku-menggandeng-unisma-bekasi-untuk-kajian-islami-18-rabiul-akhir-1446-h-23-november-2024","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/masjidalfatah.umindonesia.ac.id\/?p=1516","title":{"rendered":"TV One Damai Indonesiaku Menggandeng UNISMA Bekasi untuk Kajian Islami 18 Rabiul Akhir 1446 H \/ 23 November 2024"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong>SIKAP AROGAN DISEGANI ATAU DIMURKAI<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p style=\"text-align:justify\"><img decoding=\"async\" src=\"..\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/damai.jpeg\" style=\"width:50%;float:left;padding:8px 20px 10px 0;\">Bekasi, 23 November 2024 \/ 18 Rabiul Akhir 1446 H \u2013 DKM Al Fatah Universitas Islam 45 Bekasi kembali menggelar kajian rutin setelah Salat Dhuha pada hari Senin, 23 November 2024. Kajian kali ini mengangkat tema yang sangat relevan dalam kehidupan sosial dan spiritual umat Islam, yaitu \u201cArogansi: Sikap yang Disegani atau Dimurkai?\u201d.\n<\/p><p style=\"text-align:justify\">\nAcara yang berlangsung di Masjid Al-Fatah, Universitas Islam 45 Bekasi, dihadiri oleh jamaah dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa hingga masyarakat umum. Pembicara utama dalam kajian kali ini adalah Ustadz Riza Muhammad, seorang yang juga dikenal luas atas pemikirannya yang mendalam mengenai masalah sosial dan spiritual. Ustadz Riza Muhammad didampingi oleh K.H. Syarif Matnaji, seorang ulama senior yang memiliki pengaruh besar dalam pengembangan pendidikan Islam di wilayah Bekasi dan sekitarnya.\n<\/p><p style=\"text-align:justify\">\n<strong>Mengenal Arogansi dalam Islam<\/strong><br>\nArogansi atau kesombongan adalah sifat yang sangat dibenci dalam Islam, baik terhadap Allah, Rasul-Nya, maupun sesama manusia. Dalam kajian yang dipandu oleh Ustadz Riza Muhammad, beliau menekankan bahwa sifat sombong dapat mengarah pada perilaku yang tidak hanya merugikan diri sendiri tetapi juga merugikan orang lain. \u201cArogansi adalah musuh besar bagi keimanan. Dalam Islam, kita diajarkan untuk rendah hati, menghargai orang lain, dan menghindari perasaan bahwa diri kita lebih tinggi dari orang lain,\u201d kata Ustadz Riza.\n<\/p><p style=\"text-align:justify\">\nBeliau juga mengutip Surah Luqman, ayat 18, yang berbunyi:\n<\/p><p style=\"text-align:right\">\n\u0648\u064e\u0644\u064e\u0627 \u062a\u064f\u0635\u064e\u0639\u0651\u0650\u0631\u0652 \u062e\u064e\u062f\u0651\u064e\u0643\u064e \u0644\u0650\u0644\u0646\u0651\u064e\u0627\u0633\u0650 \u0648\u064e\u0644\u064e\u0627 \u062a\u064e\u0645\u0652\u0634\u0650 \u0641\u0650\u0649 \u0671\u0644\u0652\u0623\u064e\u0631\u0652\u0636\u0650 \u0645\u064e\u0631\u064e\u062d\u064b\u0627 \u06d6 \u0625\u0650\u0646\u0651\u064e \u0671\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064e \u0644\u064e\u0627 \u064a\u064f\u062d\u0650\u0628\u0651\u064f \u0643\u064f\u0644\u0651\u064e \u0645\u064f\u062e\u0652\u062a\u064e\u0627\u0644\u064d \u0641\u064e\u062e\u064f\u0648\u0631\u064d\n<\/p><p style=\"text-align:justify\">\nArtinya: \n&#8220;Dan janganlah kamu memalingkan muka dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.&#8221;\n<\/p><p style=\"text-align:justify\">\nArogansi, menurut Ustadz Riza, terbagi menjadi tiga kategori yang sangat jelas dalam ajaran Islam, yaitu:\n<\/p><p style=\"text-align:justify\">\n<ol>\n<li>Arogansi terhadap Allah, menolak kebenaran yang datang dari-Nya, atau merasa lebih tinggi daripada hukum-hukum-Nya. Ini adalah bentuk kesombongan terbesar, karena menyombongkan diri terhadap Sang Pencipta.<\/li>\n<li>Arogansi terhadap Rasulullah, tidak mengikuti sunnah dan ajaran Nabi Muhammad SAW. Dalam Islam, mencintai dan mengikuti Rasulullah adalah bagian dari kewajiban seorang Muslim.<\/li>\n<li>Arogansi terhadap sesama manusia, merendahkan, menghina, atau memandang rendah orang lain berdasarkan status sosial, ekonomi, atau latar belakang mereka.<\/li>\n<\/ol>\n<\/p><p style=\"text-align:justify\">\n<strong>Penyebab dan Dampak Arogansi<\/strong><br>\nDalam paparan selanjutnya, K.H. Syarif Matnaji menambahkan bahwa arogansi tidak hanya merusak hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga mengganggu hubungan sosial antara sesama manusia. \u201cSifat sombong sering kali dipicu oleh kebanggaan atas harta, kedudukan, atau kecantikan. Semua itu bisa menjadi sumber kesombongan yang menjauhkan seseorang dari sifat rendah hati yang diperintahkan oleh Allah,\u201d jelas beliau.\n<\/p><p style=\"text-align:justify\">\nMenurut K.H. Syarif, ada tiga penyebab utama dari kesombongan dalam diri manusia, yang merupakan sumber dosa yang harus dihindari:\n<\/p><p style=\"text-align:justify\">\n<ol>\n<li>Al-Kibir (Sombong): Merasa lebih baik dari orang lain, baik karena harta, penampilan, atau status sosial.<\/li>\n<li>Al-Hisr (Tamak): Keinginan yang berlebihan terhadap dunia, seperti kekayaan atau kekuasaan, yang bisa mengarah pada kesombongan.<\/li>\n<li>Al-Hasad (Iri dan Dengki): Keinginan untuk memiliki apa yang dimiliki orang lain, yang pada akhirnya menumbuhkan rasa tidak puas dan arogan.<\/li>\n<\/ol>\n<\/p><p style=\"text-align:justify\">\n<strong>Arogansi dalam Sejarah Islam<\/strong><br>\nArogansi telah menjadi bagian dari sejarah umat manusia, yang mengarah pada kehancuran. K.H. Syarif Matnaji menceritakan kisah Firaun dan Qarun sebagai contoh konkret bagaimana kesombongan dapat menghancurkan seseorang, meskipun mereka memiliki kekuasaan yang besar dan harta yang melimpah. \u201cFiraun yang merasa dirinya sebagai Tuhan dan Qarun yang kaya raya karena kekayaannya, keduanya dihancurkan oleh Allah karena kesombongan mereka,\u201d katanya.\n<\/p><p style=\"text-align:justify\">\nSebagai tambahan, Ustadz Riza mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, yang menyatakan bahwa tidak ada orang yang akan masuk surga jika dalam hatinya terdapat sedikit saja rasa sombong, bahkan sebesar biji sawi sekalipun. &#8220;Kesombongan, meskipun terlihat kecil, akan mempengaruhi hati dan membawa akibat buruk baik di dunia maupun di akhirat,&#8221; tegas Ustadz Riza.\n<\/p><p style=\"text-align:justify\">\n<strong>Menghindari Arogansi dalam Kehidupan Sehari-hari<\/strong><br>\nSetelah menjelaskan berbagai bahaya dan dampak arogansi, Ustadz Riza dan K.H. Syarif memberikan solusi konkret untuk menghindari sikap sombong dalam kehidupan sehari-hari. \u201cYang pertama, selalu ingatkan diri kita bahwa semua yang kita miliki adalah titipan dari Allah. Tidak ada satu pun yang kita miliki yang sepenuhnya milik kita. Semua itu hanyalah amanah yang harus kita pertanggungjawabkan,\u201d kata Ustadz Riza.\n<\/p><p style=\"text-align:justify\">\nSelain itu, beliau menekankan pentingnya menjaga adab dan akhlak. \u201cMenghormati orang lain, tidak memandang rendah siapa pun, dan selalu bersikap rendah hati adalah kunci untuk menjaga agar tidak terjerumus dalam kesombongan,\u201d tambah beliau. Hal ini selaras dengan ajaran Rasulullah SAW yang selalu menunjukkan akhlak yang mulia, baik dalam perilaku sehari-hari maupun dalam interaksi dengan orang lain.\n<\/p><p style=\"text-align:justify\">\n<strong>Tanggapan Jamaah dan Diskusi<\/strong><br>\nAcara kajian ini juga diselingi dengan sesi tanya jawab yang sangat interaktif. Salah satu pertanyaan yang diajukan oleh seorang jamaah adalah tentang bagaimana cara menghadapi orang yang arogan tanpa menimbulkan konflik. Ustadz Riza menjelaskan bahwa membalas keburukan dengan keburukan hanya akan memperburuk keadaan. \u201cBalaslah keburukan dengan kebaikan, karena hanya dengan itu kita bisa memperlihatkan akhlak yang baik. Jangan pernah merasa perlu untuk berdebat atau membalas keburukan dengan cara yang sama,\u201d tegas beliau.\n<\/p><p style=\"text-align:justify\">\nK.H. Syarif juga menambahkan bahwa jika kita menemui orang yang sombong, cara terbaik adalah dengan mendoakan mereka agar mendapatkan hidayah dari Allah. \u201cJangan pernah balas kesombongan dengan kesombongan. Tetaplah bersikap rendah hati dan berikan contoh yang baik. Hanya dengan cara itulah kita bisa membawa orang kembali ke jalan yang benar,\u201d ujar K.H. Syarif.\n<\/p><p style=\"text-align:justify\">\n<strong>Penutup: Menghindari Arogansi dan Menjaga Hati<\/strong><br>\nKajian ini ditutup dengan pesan kuat dari kedua narasumber bahwa sifat sombong dan arogan adalah musuh bagi iman dan akhlak yang baik. \u201cJadilah pribadi yang rendah hati, yang selalu mengingat bahwa kita semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Jangan biarkan sifat sombong merusak hubungan kita dengan Allah dan sesama manusia,\u201d pesan Ustadz Riza.\n<\/p><p style=\"text-align:justify\">\nK.H. Syarif Matnaji menambahkan, \u201cIngatlah bahwa orang yang rendah hati adalah orang yang disayangi oleh Allah. Oleh karena itu, mari kita jadikan akhlak Rasulullah sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, di tempat kerja, maupun di masyarakat.\u201d\n<\/p><p style=\"text-align:justify\">\nAcara ini diakhiri dengan doa bersama, memohon kepada Allah untuk selalu diberikan hati yang bersih, rendah hati, dan terhindar dari sifat sombong. Para jamaah pun berdoa bersama agar semua pemimpin dan umat Islam dijauhkan dari sifat arogansi dan diberikan hidayah untuk senantiasa berlaku adil dan rendah hati.\n<\/p><p style=\"text-align:justify\">\nSemoga kajian ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu memperbaiki akhlak dan menjaga hati agar tetap bersih dari segala bentuk kesombongan.\n<\/p>\n\n\n\n<p style=\"text-align:justify\">\nWaallahualam.\n<br><br>\n<strong>Tim Redaksi \n<br>\nDKM Al Fatah UNISMA Bekasi<\/strong>\n<\/p>\n\n\n\n<iframe loading=\"lazy\" width=\"100%\" height=\"450\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/Rlw_z1ZbINw?si=X_CJMvUF4whGprxk\" title=\"YouTube video player\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SIKAP AROGAN DISEGANI ATAU DIMURKAI Bekasi, 23 November 2024 \/ 18 Rabiul Akhir 1446 H \u2013 DKM Al Fatah Universitas Islam 45 Bekasi kembali menggelar [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1517,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[13],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/masjidalfatah.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1516"}],"collection":[{"href":"https:\/\/masjidalfatah.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/masjidalfatah.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/masjidalfatah.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/masjidalfatah.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1516"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/masjidalfatah.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1516\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1522,"href":"https:\/\/masjidalfatah.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1516\/revisions\/1522"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/masjidalfatah.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1517"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/masjidalfatah.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1516"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/masjidalfatah.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1516"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/masjidalfatah.umindonesia.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1516"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}